Dulu Produktif Menulis, tapi Kini Tak Pernah Lagi

Dulu Produktif Menulis, tapi Kini Tak Pernah Lagi

Salam kenal Pak Jonru. Sebenarnya menulis bukanlah hal baru buat saya. Sejak SD saya sudah rajin menulis diary. Saat SMP saya aktif ikut pelatihan jurnalistik hingga akhirnya saya dipercaya menjadi tim redaksi buletin sekolah. Kala duduk di bangku SMA saya makin keranjingan menulis. Namun semuanya terasa berhenti dan stagnan saat saya studi di salah satu institut Islam negeri. Hingga sekarang saya tidak pernah melahirkan satu tulisan pun.

Sangat sayang rasanya saat mengingat hal itu. Saya ingin sekali membangunkan kemampuan menulis saya yang sedang mati suri. Saya berharap ada solusi jitu untuk problem saya ini. Terima kasih sebelumnya.

Wassalam

Pengirim:  Nayla Maghfiroh (29 tahun, Sidoarjo, Jawa Timur, dari Contact Form)

Jawaban:

Halo Nayla, salam kenal juga dari saya.

Sejujurnya, saya punya masa lalu yang persis seperti Anda. Saya mulai suka menulis sejak SD, lalu serius meniti karir sebagai penulis sejak lulus SMA (tahun 1990). Hingga tahun 1995 saya sangat produktif menulis. Tulisan saya dimuat di sejumlah media cetak. Selama kuliah, saya juga aktif di pers kampus, dan teman-teman menjuluki saya “wartawan kampus”.

Lantas di tahun 1996 banyak kejadian yang menyebabkan saya berhenti menulis. Ceritanya sangat panjang, tapi sudah saya tulis secara detil di buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat”.

Sama seperti Nayla, saya pun benar-benar “mati suri” dari dunia penulisan selama DELAPAN TAHUN. Ya, delapan tahun!!!

Ini “jadwal mati suri” yang jauh lebih lama dari “jadwal” Nayla, bukan? Hehehe….

Alhamdulillah, mulai tahun 2004 motivasi menulis saya bangkit lagi. Sejak saat itulah, saya kembali menulis dan terus menghasilkan karya hingga hari ini. Sekadar info, buku pertama saya baru terbit pada bulan Maret 2005.

Apa rahasia yang membuat saya bisa bangkit lagi dari “mati suri” yang panjang selama delapan tahun?

Pertama: Saya terus menumbuhkan dan memperbesar rasa iri yang positif.

Ketika dulu saya produktif menulis, nama Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia sama sekali belum dikenal. Mereka masih menjadi “orang biasa” di masyarakat.

Tapi tiba-tiba nama mereka muncul dan terkenal di mana-mana. Sementara saya yang sudah mulai duluan, ternyata tertinggal jauh di belakang. Terus terang, fakta ini membuat saya iri luar biasa. Saya sempat berpikir, “Seharusnya saya jauh lebih terkenal ketimbang mereka, seandainya dulu saya tidak mati suri selama delapan tahun!”

Alhamdulillah, saya berhasil mengelola rasa iri tersebut secara positif. Rasa iri yang membuat saya termotivasi untuk kembali menulis dan terus menulis.

Kedua: Bergaul dengan banyak penulis.

Saya bergabung dengan komunitas penulis seperti Forum Lingkar Pena, dan aktif berdiskusi di sejumlah milis penulisan (waktu itu Facebook dan Twitter belum ada). Dari berbagai komunitas ini, saya akhirnya berkenalan dan berteman akrab dengan banyak penulis. Kami berdiskusi untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan seputar penulisan. Ada di antara mereka yang dengan sukacita menulis di milis:

“Buku terbaru saya akan segera terbit lagi, lho… Jangan lupa beli, ya…”

Membaca info seperti itu, rasa iri saya kembali tumbuh. Semakin banyak teman penulis yang menyampaikan info, semakin besar rasa iri tersebut. Apalagi, banyak teman penulis yang tak pernah bosan bertanya pada saya, “Jonru, kapan buku kamu terbit? Ayo dong, jangan mau kalah!”

Ketiga: Langsung ACTION.

Saya percaya bahwa keinginan yang paling sepele pun tidak akan pernah terwujud bila kita tidak pernah MELAKUKAN. Impian untuk menjadi penulis sukses tak akan pernah terwujud bila kita tak pernah menulis. Nayla pasti setuju, bukan?

Karena itu, saya langsung menulis. Awalnya memang terasa berat. Sebab segala sesuatu yang baru dimulai memang biasanya tidak mudah dilakukan. Tapi karena tekad sudah bulat, saya berusaha melawan rasa berat tersebut.

Bila Nayla juga merasa berat untuk mulai menulis lagi, coba baca kiatnya di sini.

Keempat: Kembali membangun kebiasaan menulis.

Nayla pasti setuju bahwa sebuah kebiasaan biasanya terbentuk dari kegiatan yang kita lakukan secara rutin dan konsisten, bukan? Awalnya kita mungkin belum pernah melakukan pekerjaan A. Tapi karena kita mencoba mengerjakannya secara rutin dan konsisten, maka tanpa sadar pekerjaan tersebut sudah menjadi salah satu kebiasaan kita. Ketika sudah menjadi kebiasaan, maka kita akan merasa berat untuk meninggalkannya.

Nah, menulis pun sama seperti itu. Agar kegiatan menulis KEMBALI menjadi salah satu kebiasaan Nayla, cobalah mulai menulis SEKARANG JUGA. Menulislah secara rutin dan konsisten.

Kelima: Memperjelas dan memperkuat tujuan.

Dulu Nayla sangat produktif menulis. Sejak SD hingga SMA Nayla berhasil membangun kebiasaan menulis dan menghasilkan banyak karya. Tapi tiba-tiba Nayla tak menulis lagi. Kebiasaan itu pun hilang secara perlahan. Mengapa bisa begitu?

RAHASIA BESARNYA adalah:

Karena kebiasaan saja tidak cukup. Coba Nayla ingat dan resapi dua poin berikut ini baik-baik:

Bila kita punya kebiasaan dan dilakukan tanpa tujuan yang jelas, maka suatu saat nanti kita akan bosan sendiri, atau mengalami apa yang disebut “disorientasi”.

Bila kita punya kebiasaan yang dilakukan hanya untuk tujuan jangka pendek, maka kebiasaan itu akan berakhir bila tujuan jangka pendek tersebut sudah tercapai. Misalkan ada orang yang menulis hanya dengan tujuan agar dirinya terkenal. Maka setelah terkenal, dia akan mulai bosan dan berhenti menulis. Kenapa? Karena tujuan dia sudah tercapai

Agar kebiasaan menulis bisa tetap melekat pada diri kita, dan tak pernah padam, maka rahasia besarnya adalah: Menetapkan Tujuan JANGKA PANJANG yang Jelas dan Kuat.

Kenapa? Sebab dalam melakukan apapun, kita pasti akan bersemangat dan pantang menyerah bila ada tujuan yang jelas, dan kita punya tekad yang sangat kuat untuk mencapai tujuan tersebut, bukan?

Tujuan jangka panjang ini haruslah sesuatu yang mulia dan “abadi”. Misalnya:

Ingin berbagi ilmu melalui tulisan

Ingin berdakwah melalui tulisan

dan sebagainya.

Nayla (dan teman-teman lain) mungkin berpikir, “Tujuan seperti itu kan tidak ada duitnya, dan tidak membuat kita terkenal. Apa untungnya bagi saya?”

Hehehe….

Memang sekilas terasa seperti itu. Tapi pengalaman saya justru membuktikan sebaliknya.

Ketika dulu mulai bangkit lagi sebagai penulis, saya mengawalinya dengan banyak menulis di blog. Tujuan saya ketika itu hanya menyalurkan hobi dan ingin berbagi tentang banyak hal kepada orang lain.

Tanpa saya sadari, tulisan demi tulisan saya yang dimuat di internet membuat banyak orang mulai mengenal saya. Semakin lama, semakin banyak orang yang kenal. Dan tanpa saya sadari, banyak orang yang tiba-tiba menyebut saya penulis terkenal

Secara tak terduga, banyak pula orang yang mengundang saya menjadi pembicara pelatihan penulisan. Ketika saya mendirikan Sekolah-Menulis Online (kini berubah nama menjadi Writers Academy), alhamdulillah banyak orang yang tertarik untuk bergabung, antara lain karena nama saya sudah terkenal.

Helvy Tiana Rosa pernah berkata:

Uang dan popularitas hanyalah efek samping dari kerja keras kita.

Alhamdulillah, saya sudah membuktikan bahwa hal ini sangat benar seratus persen!

Jadi, bukan berarti saya beranggapan bahwa tujuan jangka pendek tidak penting. Itu juga pasti penting. Uang itu penting. Popularitas juga penting agar pemikiran-pemikiran kita bisa menjangkau banyak orang. Tapi seperti yang saya sebutkan di atas, semua tujuan jangka pendek seperti itu akan bisa kita raih secara otomatis bila kita mau bekerja keras.

Tidak ada salahnya pula bila pada kesempatan tertentu, kita menulis untuk tujuan jangka pendek. Misalnya Nayla sedang butuh uang, lalu menulis dengan harapan semoga bisa mendapat honor dari pemuatan tulisan tersebut di majalah.

Ini tentu tidak salah. Terus terang, saya pun sering menulis dengan tujuan jangka pendek seperti ini.

Tapi saya selalu berusaha memasukkan tujuan jangka panjang di dalam setiap tulisan saya. Misalnya ketika saya menulis untuk mengikuti lomba menulis, maka saya berusaha agar lewat tulisan tersebut saya tetap bisa menyalurkan tujuan jangka panjang saya, yakni BERBAGI.

Ketika saya menulis dengan tujuan jangka pendek untuk “menarik perhatian” seorang tokoh terkenal misalnya, saya tetap berusaha agar di dalam tulisan tersebut ada hal-hal menarik dan bermanfaat bagi para pembaca. Saya selalu berusaha agar semua tulisan saya adalah dalam semangat berbagi, walau di balik itu ada tujuan jangka pendeknya.

Nah, agar Nayla bisa kembali membangun kebiasaan menulis dan kebiasaan ini tak pernah hilang lagi, maka yang harus Nayla lakukan adalah menciptakan tujuan jangka panjang yang jelas dan kuat. Untuk penjelasan selanjutnya coba Nayla baca  di sini.

Keenam: Mengubah pola pikir mengenai kegiatan menulis.

Berdasarkan pengalaman, saya bisa menduga bahwa salah satu faktor kenapa Nayla berhenti menulis, adalah karena pola pikir atau ALAM BAWAH SADAR Nayla mengatakan:

“Menulis itu tidak terlalu penting. Masih banyak kegiatan lain yang jauh lebih penting.”

Membaca kalimat di atas, Nayla mungkin membantah:

“Siapa bilang? Bagi saya menulis itu sangat penting, kok. Justru karena menganggap menulis itu sangat penting, saya bela-belain mengirim pertanyaan untuk konsultasi ini!”

Ya… ya… ya… benar juga. Hehehe….

Tapi saya ingin balik bertanya:

“Bila Nayla benar-benar menganggap bahwa menulis itu sangat penting, lantas kenapa selama ini Nayla bisa berhenti menulis? Bukanlah bila kita menganggap sesuatu itu sebagai hal yang sangat penting, kita selalu berusaha untuk mengutamakannya? Faktanya, saat ini Nayla lebih mengutamakan kegiatan lain dan tak pernah menulis lagi.”

Mohon maaf, saya bukan hendak “mengajak perang” lewat kalimat-kalimat di atas, hehehe….

Saya justru hendak mengajak Nayla brainstorming, untuk memunculkan “pikiran bawah sadar” Nayla yang selama ini mungkin masih tersembunyi.

Intinya:

Bila pola pikir dan alam bawah sadar Nayla mengatakan bahwa menulis itu sangat penting, seharusnya itu diimplementasikan lewat PERBUATAN NYATA.

Bila pola pikir dan alam bawah sadar Nayla benar-benar sudah menganggap bahwa menulis itu sangat penting, maka saya yakin tak ada lagi kalimat, “Maaf sibuk, saya tak sempat menulis.”

Sebab:

Tak ada istilah TAK SEMPAT untuk hal-hal yang menurut kita sangat penting. Sesibuk apapun, kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menyempatkan diri mengerjakan hal-hal yang menurut kita sangat penting, bukan?

Karena itu, langkah berikutnya yang perlu Nayla lakukan adalah mengubah pola pikir mengenai dunia penulisan. Nayla harus BENAR-BENAR menganggap bahwa menulis itu sangat penting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *